Sabtu, 13 Agustus 2016

Jual Bibit Lada, Asam Gelugur, Aren, Durian Unggul, Jambu Madu Deli Hijau dan Sawit Murah



Bibit lada perdu Rp.8.000/batang.
Bibit lada panjat Rp.7.000/batang.
Bibit asam gelugur asal biji Rp.7.000/batang.
Bibit asam gelugur asal stek akar Rp.50.000/batang.
Bibit aren Rp.4.000/batang.
Bibit durian montong dan durian kani rp.17.000/batang.
Bibit durian musang king rp.25.000/batang.
Bibit jeruk nipis asli Rp.6.000/batang.
Bibit jambu madu deli hijau Rp.20.000/batang. 
Bibit jambu super green taiwan Rp.25.000/batang.
Bibit sawit siap tanam umur 14 bulan Rp.8.000/batang.

Lokasi di Desa Petatal, Lima Puluh, Batu Bara, Sumut. 
Jalan Lintas Medan-Kisaran KM 130. Depan Puskesmas Petatal, 
dekat SPBU 12-212-216 Petatal-Batu Bara. 
HP. 0813 7000 8997, dengan Muhammad Isnaini alias Bang Pilot.  













Selasa, 21 Juni 2016

Teknik Menanam Aren




Tinggi batang aren dan diameter batangnya memang berpengaruh terhadap hasil nira. Pohon aren yg terlalu pendek akan mengeluarkan tandan sadap yang sedikit, sedangkan diameter batang yang kecil akan menjadi penyebab kecilnya debit nira. Karena itulah diusahakan agar pohon aren yang kita tanam akan bisa  memiliki diameter yang besar (lebih dari 40 cm) dan tinggi batang yang optimal (10-12 meter). Dan kerena itu pulalah saya, maaf, selalu menganjurkan penanaman aren aksasi dalam, bukan aren aksasi genjah yang berpostur pendek, atau aren aksasi tinggi yang bakal tumbuh menjulang. 
Teknik penanaman aren diusahakan batas terbenamnya adalah tepat pada batas antara akar dengan batang. Namun saya tetap menganjurkan sistim lembah tangkapan air, dengan tujuan untuk mempermudah penyiraman jika diperlukan, dan mencegah hanyutnya pupuk yang diaplikasikan pada tanaman muda saat musim penghujan. 
Ada pun jarak tanam, saya tetap menganjurkan jarak 5x6 meter atau lebih baik lagi 4,25x7 meter sistim mata lima atau segitiga sama kaki. Dan tumpang sari hanya dengan tanaman muda, bukan dengan tanaman tahunan. Mengapa?
Adalah fakta tak terbantahkan bahwa aren termasuk spesies tumbuhan yang akan mati sendiri manakala semua tandan bunganya sudah keluar. Dan rentang waktu keluarnya tandan bunga pertama dengan tandan bunga terakhir berkaitan erat dengan ketinggian batang dan jarak antar pelepah. Kita ketahui bahwa setiap tandan bunga aren akan keluar dari celah atau bekas celah pelepah daun. Semakin pendek batang aren, maka akan semakin cepat matinya. Semakin jarang jarak antar pelepah, maka akan semakin cepat pula matinya pohon.  Secara umum dapat dikatakan bahwa lamanya masa memanen sama dengan lamanya masa menunggu mulai memanen. Bila masa menunggu adalah 8 tahun, maka masa panen akan selama 8 tahun pula, atau kurang sedikit.
Jika aren ditanam terlalu rapat, maka biasanya pohon akan tumbuh meninggi, diameter batang mengecil  dengan jarak pelepah yang jarang, diatas 30 cm. Itu memang sudah mejadi naluri buat semua jenis tetumbuhan untuk berusaha menang dalam perebutan mendapat paparan cahaya matahari (dan cahaya bulan juga, menurut sebagian kecil peneliti). Jika aren ditanam secara tumpang sari dengan tanaman tahunan yang juga tinggi, maka hal yang sama akan terjadi.
Mengingat aren adalah tumbuhan yang memiliki umur yang terbatas, maka untuk mendapatkan keberlangsungan produksi, perlu dipikirkan cara agar masa tunggu panen pada penanaman kedua tidak terlalu lama lagi. Metode yang dapat diterapkan dalam hal mengetasi dua masalah ini adalah pengaturan jarak tanam dan penanaman bibit baru di bawah tanaman produksi (under planting).
Jika kita mengutamakan keberlangsungan produksi pada sebidang lahan, maka jarak tanam yang paling sesuai untuk program under planting di masa depan adalah 5x6 meter atau 4,25x7 meter. Lorong yang selebar 6 meter atau 7,25 meter itu membujur arah Timur-Barat. Dalam satu hektar lahan akan didapat 333 batang tegakan aren.
Pada lorong yang terlebar itulah kelak akan ditanam sebaris bibit aren baru sesaat setelah kebun aren mulai berproduksi. Dengan cara ini, maka masa tunggu panen kedua hanya akan menjadi kurang dari setengah masa menunggu periode pertama.  

Minggu, 19 Juni 2016

Jangan Sia-Siakan Aren, Ia Anugrah Yang Besar Dari Tuhan



Kita adalah manusia, mahkluk tercerdas yang pernah ada di muka bumi. Sepanjang sejarah, manusia  sudah membuat begitu banyak perubahan pada satu-satunya planet yang bisa kita huni ini. God has created the earth and then human has change it to a world. Dunia adalah bentuk baru dari planet bumi. Sebuah ranah dimana manusia merasa lebih mmudah dan lebih nyaman untuk menjalani hidup. 

Beberapa perubahan itu dilakukan dengan tanpa merusak bumi, namun sebagian besarnya telah mendegradasi bumi hingga menjadi lebih labil. Polusi telah menghasilkan lubang ozon yang besarnya sudah lebih besar dari benua Amerika, juga menyebabakan perubahan iklim. Sementara itu, perusakan biota hijau telah memperparah kualitas udara di bumi.

Ada banyak pakar lingkungan yang percaya bahwa pemanasan global  dipicu oleh ulah manusia, meski sebahagian yang lain malah mengajukan issue pendinginan global.

Pada dasarnya, kedua teori itu ada benarnya. Bumi menjadi semakin panas dalam kurun waktu tertentu, lalu berubah menjadi lebih dingin pada kurun waktu yang lain. Dan kedua gejala alam yang tak bersahabat ini memang punya benang merah dengan segala aktivitas manusia selama berabad-abad. Utamanya sejak terjadinya revolusi industri pada pertengahan abad ke delapan belas.

Jika kita fokus pada rusaknya biota hijau di bumi, maka Indonesia adalah salah satu negara yang mengalami hal itu secara masif dan dalam skala yang sangat besar. Setiap tahunnya, ada jutaan hektar hutan di Indonesia yang dirusak oleh para pemilik HPH yang serakah dan tidak punya visi lingkungan. Mudahnya izin, tanpa pengawasan dan tindakan pembiaran dari pemerintah, tentu saja punya andil besar dalam hal ini.

Di lain sisi, jumlah penduduk Indonesia makin membengkak dari waktu ke waktu. Mulut sebanyak 260 juta itu harus terus disuapi makanan agar bertahan hidup secara wajar. Dan, tanah masih adalah satu-satunya media yang paling mudah ditanami untuk mendapatkan sumber makanan buat manusia. Tanah Indonesia setidaknya harus bisa menghasilkan 130 juta kilogram makanan setiap harinya agar orang Indonesia tidak kelaparan.

Berkaca pada dua hal tadi, rusaknya hutan dan besarnya kebutuhan akan pangan, harusnya dapat dikelola dengan arif. Hutan yang sudah terlanjur rusak tadi bisa ditanami dengan tanaman yang menghasilkan makanan sekaligus juga menghasilkan oksigen. Dan, keberlanjutan sistem ini kiranya dapat menjamin terpenuhinya hajat hidup orang banyak. Artinya, bumi harus dikelola sedemikian rupa hingga dapat dipergunakan secara optimal, generasi ke generasi.  Kita tidak boleh hidup nyaman sekarang, tetapi mewariskan sebuah planet yang gersang bagi anak cucu di masa depan.

Sebagian ahli mengatakan bahwa planet bumi masih aman untuk ditinggali manusai sampai lima miliar tahun ke depan. Tetapi tentu saja manusia harus bijak mengelolanya. Jika tidak, maka tak perlu waktu selama itu untuk membuat bumi kehilangan daya dukungnya bagi kehidupan manusia.

Secara semesta, bagaimanakah unsur pendukung kehidupan di bumi dapat habis?

Coba lihat perhitungan sederhana berikut.
Seumur hidupnya, rerata seorang manusia akan menghabiskan zat sebanyak 250 gram x 50 tahun x 364 hari = 45.550.000 gram atau 45,55 ton zat. Jika saat ini ada 6 miliar jiwa penghuni bumi, maka dalam satu generasi akan habis 273,3 miliar ton zat. Yang kembali ke bumi dalam bentuk jasad manusia adalah 50 kg x 6 miliar = 300 miliar kilogram atau hanya 300 juta ton. Jadi, ada 273 miliar ton zat (unsur hara bumi) yang dihabiskan manusia dalam jangka waktu 50 tahun saja. Sebahagian zat itu berubah menjadi energi. Padahal belum ada metode yang bisa dilakukan untuk mengubah energi yang lepas ke angkasa, kembali menjadi zat. Kita tentu tahu ini cukup berkaitan dengan hukum kekekalan energi.

Untuk menghemat cadangan zat hara bumi, manusia harus menanam tanaman yang dapat menghasilkan pangan sekaligus juga menghasilkan bahan kebutuhan lainnya. Tanaman itu haruslah multi guna. Ada banyak bagiannya yang dapat dimanfaatkan oleh manusia. Dan tanaman aren adalah salah satunya.

Produk dari tanaman aren memang ada banyak. Dan nyaris semua bagiannya dapat dimanfaatkan untuk menunjang kebutuhan hidup manusia. Ada buahnya yang menjadi sumber bahan pangan sehat berbentuk kolang-kaling. Kulit buahnya bisa diolah menjadi pupuk kompos, atau dikeringkan menjadi bahan bakar alternatif. Tandan buahnya yang besarnya sedang dan lurus-lurus itu juga bisa menjadi substitusi bagi kayu bakar. Daunnya bisa menjadi pakan ternak. Pelepahnya bisa menjadi bahan bangunan sederhana. Batangnya juga sudah mulai diolah menjadi bahan perkayuan yang bermutu baik dan tahan lama. Akarnya merupakan salah satu bahan obat herbal. Dan tentu saja yang paling ajaib adalah niranya yang dapat diolah menjadi gula, minuman segar, ethanol dan methanol industri maupun alkohol farmasi.  Selain itu, masih ada kabung atau bagian dalam batang aren yang bisa menjadi bahan makanan tambahan untuk unggas.

Sungguh, sepohon aren adalah salah satu karunia Tuhan yang sangat bernilai bagi ummat. Adalah naif sekali jika kita masih terus mengabaikanya. 

    

Tabel Pemupukan Tanaman Aren











Keterangan : HGF-B = pupuk Borate.

Sabtu, 28 Mei 2016

Air Nira Aren Melimpah, Jangan Senang Dulu!



Nira Berlimpah, Pohon Aren Mati

Kadang-kadang ada juga pohon aren yang disadap mampu memberikan air nira sampai lebih dari 30 liter perbatang perhari (disadap pagi dan sore). Ini bisa menjadi berkah sekaligus bisa juga bencana.
Dalam banyak kasus, pohon aren yang terlalu banyak menghasilkan nira, umurnya tidak panjang. Pohon aren bisa mati begitu saja setelah disadap 2 atau 3 tandan. Apa sebab?
Sejauh ini, belum ada penelitian ilmiah yang bertujuan untuk mengungkap apa sebab pohon aren yang menghasilkan nira luar biasa banyak itu menjadi mati tiba-tiba. Maklum, belum banyak pihak terkait yang berminat untuk bersenggolan dengan pohon aren yang penampilannya lumayan angker ini. Aren adalah salah satu komoditas pertanian yang memiliki potensi ekonomi sangat tinggi namun masih terabaikan.  Nyaris tak ada akademisi, apalagi pihak pemerintahan yang berminat meneliti pohon aren.
Namun demikian, menurut dugaan saya, pohon-pohon aren itu mati karena dehidrasi, kehilangan terlalu banyak cairan tubuh. Juga kehilangan terlalu cepat zat gula dari batangnya.
Jika dugaan ini benar, maka kasus kematian tiba-tiba ini dapat diminimalisir dengan cara memberikan asupan air dan unsur hara yang cukup untuk pohon aren yang sedang banyak-banyaknya berproduksi.
Pohon aren disiram rutin atau dibuatkan irigasi pipa. Juga diberi pupuk organik berupa pukan atau kompos sebanyak 50 kg perbatang per 3 bulan. Jika jarang turun hujan, pupuk organik yang diaplikasikan ini juga harus disiram paling tidak seminggu sekali. Pupuk NPK sebanyak 1 kg juga sebaiknya ditaburkan merata di daerah perakaran selebar tajuk daun.
Dalam kearifan lokal, banyak penyadap tradisional yang memilih untuk tidak menyadap tandan aren yang ketiga jika tandan keduanya sudah sangat banyak memberikan nira. Nanti yang disadap adalah tandan keempatnya.
Namun begitu, ada juga penyadap pragmatis yang melanjutkan memerah pohon aren sadapannya. Terutama jika pohon aren itu bukan miliknya, tetapi milik orang lain yang disewanya.
Perhitunganya begini : Jika satu hari didapat 30 liter nira = 3 kg gula aren = uang rp.60.000 x 90 hari sadap = Uang Rp.5.400.000/tandan. Jika ia menyadap 2 tandan saja, maka uang yang didapatnya = Rp.10.800.000 – Rp.500.000 (sewa dua tandan pada pemilik pohon) = Rp.10.300.000.
Mana dia perduli pohon akan mati, yang penting sudah dapat duit sepuluh juta.
Karena itu, sebaiknya jangan sewakan pohon aren Anda. Sadap sendiri. Atau minimal minta bagi dua air niranya. Lalu Anda yang menyiram dan memupuk pohon aren Anda itu.
   

Rabu, 27 April 2016

Berapa jarak tanam aren yang terbaik?



 Kunci sederhana menentukan jarak tanam tumbuhan adalah dengan mengukur lebar bentangan tajuk daun dikurangi 10 persen. Selain itu, diperhitungkan juga sifat-sifat organ produksi tanaman. Karena itulah aren jadi berbeda dengan kelapa sawit dalam masalah jarak tanam.
Sebagai contoh, jika  sawit ditanam dengan jarak 4x4 meter, alamat ia tidak akan berbuah. Kalau pun berbuah maka buahnya akan kecil-kecil karena terjepit oleh pangkal pelepahnya yang tak bisa membuka.
Kalau aren ditanam dengan jarak serupa, maka aren tetap akan menghasilkan tandan sadap yang mengeluarkan nira. Mengapa? Karena meskipun tandan jantan aren itu keluarnya di celah pelepah juga, tapi bentuknya memanjang ke bawah hingga tidak akan terjepit pangkal pelepah. Berbeda dengan tandan buah sawit yang lengannya pendek dan buahnya berbentuk bulat besar.
Namun demikian, penanaman aren yang terlalu rapat juga tidaklah baik. Selain akan terjadi perebutan unsur hara tanah, yang lebih berpengaruh negatif adalah kurangnya intensitas cahaya matahari. Cahaya matahari yang minim akan mengganggu proses fotosintesa pada daun. Jika proses foto sintesa terganggu, maka pertumbuhan akan terganggu. Begitu juga dengan proses pengubahan karbohidrat menjadi gula saat aren disadap.
Ada satu hal lain yang harus diperhitungkan saat akan menentukan jarak tanam aren, yakni keberlanjutan produksi.
Sudah kita ketahui bersama bahwa aren memiliki masa panen yang terbatas. Titik tumbuh tandan jantannya yang makin lama makin ke bawah itu menyebabkan masa panen aren biasanya hanya sama panjang dengan masa tunggu produksi. Pada kasus tanaman yang tumbuh rapat, masa panen lebih singkat lagi. Ini disebabkan oleh karena: jika aren tumbuhnya rapat, maka biasanya jarak antar pelepahnya menjadi semakin jauh. Jika pelepahnya jarang, maka otomatis tandan sadapnya juga menjadi sedikit, karena tandan sadap keluar dari celah pelepah atau celah bekas pelepah.   
Untuik mengatasi lamanya masa tunggu produksi dan singkatnya masa panen, dapat dilakukan sistim penanaman di bawah tanaman. Ini biasa disebut dengan inter planting atau under planting.
Inter planting dimaksud adalah menanam tanaman baru sebelum tanaman pertama ditumbang. Di sebut inter planting jika penanam tanaman kedua dilakukan di dalam lorong tanaman lama. Dinamakan under planting jika penanaman kedua dilakukan di dalam barisan tanaman lama.
Untuk kelapa sawit, inter planting dilakukan tiga tahun sebelum penumbangan tanaman tua. Tetapi pada kebun kelapa sawit, inter planting ini jarang dilakukan oleh perusahaan besar. Sebabnya sudah saya tuliskan.
Untuk aren, inter planting sebaiknya dilakukan 6-7 tahun sebelum penumbangan tanaman tua. Dengan cara ini, maka masa tunggu panen kedua akan bisa dipangkas menjadi hanya 2-3  tahun saja. Patut dicatat, meski pada penanaman awal panen perdana adalah pada umur 7-8 tahun, panen kedua dan seterusnya akan terjadi pada umur 9-10 tahun. Bagaimanapun, tanaman inter planting tidak akan mampu tumbuh secepat tanaman yang tidak mengalami teduhan. Penambahan unsur hara sangat diperlukan untuk mencegah tanaman kedua menjadi kerdil.
Karena mengadopsi kepentingan untuk melakukan inter planting itu, maka kami menyarankan untuk menanam aren dengan jarak 5x6 meter bagi pemilik lahan di bawah satu hektar, dan jarak tanam  5x7 meter untuk pemilik lahan lebih dari satu hektar.
Sebenarnya, inter planting menjadi tak terlalu penting jika ada kemungkinan untuk melakukan ekstensifikasi (penambahan luas lahan). Jika tanaman aren satu hektar Anda sudah berproduksi selama 2 tahun, seharusnya sudah ada dana untuk membeli lahan baru.  Kita ketahui bahwa harga lahan kosong di seputaran Riau, Jambi dan Sumsel (saat ini) hanya sekitar 25-40 juta rupiah perhektarnya. Jika Anda sudah mengantongi uang setengah miliar rupiah, apa susahnya menyisihkan sepersepuluhnya untuk pengadaan kebun aren baru.
Jika ada kemungkinan untuk ekstensifikasi, silahkan tanam aren dengan jarak tanam 5x6 meter saja. Setelah panen dua tahun, beli lahan baru, mobil baru, dan anu baru.